Musim...
Apa musim yang kau suka?
Musim memberikan tawa,air mata, makian dan pujian
Dia menyukai musim hujan. Dia berkata padaku di suatu sore..
"Kau tau, kau bisa mengetahui jika hujan akan datang." katanya sambil memejamkan mata dan kedua bahunya terangkat pelan.
"hujan datang? saat mulai gerimis?" jawabku sambil melihatnya.
Dia tidak menjawabku, dia hanya diam, menoleh sejenak kearahku dan memejamkan matanya lagi.
Aku ingat sore itu, tapi aku tak ingat lagi wajahnya. Dia tidak membiarkanku mengingat wajahnya di dalam pikiranku ataupun tercetak pada selembar kertas. Aku terus mengingat sore itu, dan juga sikapnya yang tidak menjelaskan apapun padaku.
Hari ini siang yang panas, langitnya biru merata. Tak ada awan yang bergelayut meneduhkanku. Aku berjalan ditemani rerumputan kering di sebelah kakiku. Layu dan lemas.
Beberapa anak laki-laki berlari kearahku sambil membawa sebuah layangan hitam.
Aku menyingkir dari jalan kecil yang kulewati, membiarkan mereka berlari melaluiku.
Sejenak ingatanku melayang ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih memiliki seorang kakak. Kakak laki-laki. Ia masih kecil, kulitnya coklat gelap, ceria dan menggemaskan dengan pipi-pipinya yang chabi. Aku?. Aku sangat berbeda dengannya, aku si penakut, yang selalu ingin bersama kakakku, selalu ingin memiliki barang-barang yang sama dengannya, aku yang tak menggemaskan sepertinya, aku si anak dengan pipi tipis dan badan yang tinggi. Aku tak tau, setiap orang yang baru melihat kami, pasti bilang aku kakaknya, dan kakakku adalah adikku.
Aku yang selalu ingin mendapatkan perhatian sebesar perhatian yang didapat kakakku.
Aku yang selalu ingin mirip dengannya, aku yang terlalu egois saat itu.
Dia kakakku, yang berubah menjadi pendiam saat "itu" terjadi padaku. Dia kakakku, selalu berkata adek nggak papa? sejak "itu" terjadi padaku. Dia kakakku, yang tiba-tiba sering melamun sejak saat "itu" terjadi padaku. Ayah dan ibu sering bilang kakak nakal, padahal aku yang salah.
Dia kakakku, yang tidak pernah protes walaupun dia yang selalu disalahkan.
Kakaku yang takku ingat lagi wajahnya, ayah dan ibu tak membiarkanku menyimpan fotonya. Mereka tak membiarkanku tau apa yang terjadi sebenarnya.
Pikiranku kembali di masa kini, aku masih berjalan, masih ingin bertemu kakakku.
Mataku menyusuri sawah yang ada didepanku, aku berjongkok dan menarik nafas, angin segar dan sejuk menerpa wajahku, aku tersenyum memandang sawah dihadapanku. tiba-tiba jantungku berdetak kencang lagi.
Aku memegang dadaku. Air mataku tiba-tiba mengalir perlahan, setetes, setetes lagi, setetes lagi, hingga deras turun membasahi pipiku. Kuusap perlahan air mataku berdiri perlahan kemudian kembali pulang.
"Li, dari mana?"
Aku menoleh, "Jalan-jalan tadi bik." jawabku singkat, lalu berjalan masuk ke kamar. Bibiku duduk di ruang tamu, memasukkan barang-barang ke tasnya yang besar.
"Udah makan Li?" teriaknya.
"Udah." jawabku berbohong.
"Bibik pergi sekarang ya." teriaknya lagi sambil membuka pintu kamarku. Dia berjalan kearahku kemudian mengecup keningku.
Aku mengangguk padanya lalu tersenyum tipis.
"Masalah sekolah udah selesai, besok kamu bisa masuk." katanya sambil menunjuk seragam baruku yang dilipat di atas kursi. Aku menatapnya malas, kemudian tersenyum lagi.
Dia membalas senyumku dengan senyum hangatnya.
"Maaf ya, bibik harus pergi. Padahal kamu baru sampai disini kemarin, bibik langsung ninggalin kamu." katanya sambil memasang muka menyesal.
Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum lagi.
Bibikku terdiam sejenak, lalu mencium pipiku dengan cepat. "bibik pergi ya, kalo kamu perlu sesuatu...." Dia diam sejenak, lalu menggeleng sambil terus memandangku seakan mengharapkan sesuatu.
"Bibik pergi ya Li. Jangan lupa makan, bibik tau kamu belum makan." katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk perlahan. Dia pergi, bibikku pergi. Suara motor terdengar di luar kemudian suara klakson.. tiiin tiiin.. kemudian suaranya mulai merayap pergi.
Aku membenamkan wajahku di bantal, baunya sedikit apek. Aku bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah seragam baruku. Baju putih dengan rok abu-abu berada di 1 plastik. Ada di paling atas, dibawanya ada beberapa pasang stel baju seragam lagi. Dengan malas ku lempar seragamku ke kasur dan keluar kamar. Kupandangi pintu depan yang masih terbuka, kemudian duduk sebentar di kursi tamu, kemudian tiduran dengan kaki dibawah, kemudian kunaikkan kakiku, kemudian kutelungkupkan badanku.. "Aaaaargggghhhh.." teriakku sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangan memukul-mukul sofa yang tak nyaman itu.
Aku bangkit kemudian berjalan ke meja makan, ku angkat tudung saji. Dan sebuah amplop putih berada disebelah mangkok lauk. Kuambil dan kubuka perlahan. "Uang? bibik?" aku mengambil uang itu dan menyimpannya dalam kantong kemudian menemukan sepucuk surat di dalam amplop itu.
Buat kebutuhan kamu
selama bibik pergi.
Bibik takut,
kamu nggak mau terima
jadi bibik taruh disini.
Bibik sadar, kita tidak
terlalu akrab dan dekat
Tapi bibik yakin kita akan akrab
dan jadi keluarga yang bahagia
Bibik sayang kamu
FELISIA VIOLIA ODORATA
Aku menarik nafas dengan berat. "viona bik..." kutarik dan hembuskan nafasku dengan berat.
"Gimana jadi keluarga bahagia, baru dateng udah ditinggal sebulan." Aku duduk dikursi dan menopang wajahku dengan sebelah tangan.
Tiba-tiba aku ingin membuka lemari besar di dekat tv.
aku membuka satu persatu laci, tidak ada yang istimewa. hanya berkas-berkas milik bibik dengan tulisan-tulisan yang ditulis tangan. Tapi ada sebuah kertas berwarna merah yang terlihat,
kuambil kertas itu, "foto siapa?" sebuah foto lama.
Aku melihat foto itu, lama-lama aku mengenal beberapa wajah orang-orang dalam foto itu.
"bapak, ibu, bibik.. ya ini bibik." ada beberapa orang yang takku kenal di sebelah mereka,
"aku? ini aku.." ada anak kecil dengan senyum mengembang, dia kurus dan tinggi. disebelahnnya ada foto seorang anak laki-laki. gendut dan menggemaskan sama cerianya dengan anak disampingnya, mereka berpegangan tangan dan memakai baju, celana, sepatu dan topi dengan warna yang sama. warna biru muda.
"kakak,.."pekikku tak percaya. Aku mendekatkan wajahku ke foto itu..
"kakak.. " panggilku seakan dia akan menjawabku. Aku tersenyum perlahan.
Ada tulisan di belakang foto itu.
Ini adalah hari yang istimewa.
hari ulang tahunku.
Semua saudaraku disini...
Ayah ibu berikan aku
ucapan selamat ulang tahun
dari surga.
Aku melihat foto kakakku lagi, lalu mengingat hari terakhir aku melihat kakakku. Air mataku meluncur perlahan.
Tiba-tiba kepalaku terasa berat mataku menjadi berkunang-kunang. Aku merasa badanku semakin melemah dan aku merasakan dinginnya ubin rumah bibik yang mengenai pipi dan lenganku.
"Kakak dimana?" pekikku perlahan sebelum mataku terpejam
bersambung
Apa musim yang kau suka?
Musim memberikan tawa,air mata, makian dan pujian
Dia menyukai musim hujan. Dia berkata padaku di suatu sore..
"Kau tau, kau bisa mengetahui jika hujan akan datang." katanya sambil memejamkan mata dan kedua bahunya terangkat pelan.
"hujan datang? saat mulai gerimis?" jawabku sambil melihatnya.
Dia tidak menjawabku, dia hanya diam, menoleh sejenak kearahku dan memejamkan matanya lagi.
Aku ingat sore itu, tapi aku tak ingat lagi wajahnya. Dia tidak membiarkanku mengingat wajahnya di dalam pikiranku ataupun tercetak pada selembar kertas. Aku terus mengingat sore itu, dan juga sikapnya yang tidak menjelaskan apapun padaku.
Hari ini siang yang panas, langitnya biru merata. Tak ada awan yang bergelayut meneduhkanku. Aku berjalan ditemani rerumputan kering di sebelah kakiku. Layu dan lemas.
Beberapa anak laki-laki berlari kearahku sambil membawa sebuah layangan hitam.
Aku menyingkir dari jalan kecil yang kulewati, membiarkan mereka berlari melaluiku.
Sejenak ingatanku melayang ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih memiliki seorang kakak. Kakak laki-laki. Ia masih kecil, kulitnya coklat gelap, ceria dan menggemaskan dengan pipi-pipinya yang chabi. Aku?. Aku sangat berbeda dengannya, aku si penakut, yang selalu ingin bersama kakakku, selalu ingin memiliki barang-barang yang sama dengannya, aku yang tak menggemaskan sepertinya, aku si anak dengan pipi tipis dan badan yang tinggi. Aku tak tau, setiap orang yang baru melihat kami, pasti bilang aku kakaknya, dan kakakku adalah adikku.
Aku yang selalu ingin mendapatkan perhatian sebesar perhatian yang didapat kakakku.
Aku yang selalu ingin mirip dengannya, aku yang terlalu egois saat itu.
Dia kakakku, yang berubah menjadi pendiam saat "itu" terjadi padaku. Dia kakakku, selalu berkata adek nggak papa? sejak "itu" terjadi padaku. Dia kakakku, yang tiba-tiba sering melamun sejak saat "itu" terjadi padaku. Ayah dan ibu sering bilang kakak nakal, padahal aku yang salah.
Dia kakakku, yang tidak pernah protes walaupun dia yang selalu disalahkan.
Kakaku yang takku ingat lagi wajahnya, ayah dan ibu tak membiarkanku menyimpan fotonya. Mereka tak membiarkanku tau apa yang terjadi sebenarnya.
Pikiranku kembali di masa kini, aku masih berjalan, masih ingin bertemu kakakku.
Mataku menyusuri sawah yang ada didepanku, aku berjongkok dan menarik nafas, angin segar dan sejuk menerpa wajahku, aku tersenyum memandang sawah dihadapanku. tiba-tiba jantungku berdetak kencang lagi.
Aku memegang dadaku. Air mataku tiba-tiba mengalir perlahan, setetes, setetes lagi, setetes lagi, hingga deras turun membasahi pipiku. Kuusap perlahan air mataku berdiri perlahan kemudian kembali pulang.
"Li, dari mana?"
Aku menoleh, "Jalan-jalan tadi bik." jawabku singkat, lalu berjalan masuk ke kamar. Bibiku duduk di ruang tamu, memasukkan barang-barang ke tasnya yang besar.
"Udah makan Li?" teriaknya.
"Udah." jawabku berbohong.
"Bibik pergi sekarang ya." teriaknya lagi sambil membuka pintu kamarku. Dia berjalan kearahku kemudian mengecup keningku.
Aku mengangguk padanya lalu tersenyum tipis.
"Masalah sekolah udah selesai, besok kamu bisa masuk." katanya sambil menunjuk seragam baruku yang dilipat di atas kursi. Aku menatapnya malas, kemudian tersenyum lagi.
Dia membalas senyumku dengan senyum hangatnya.
"Maaf ya, bibik harus pergi. Padahal kamu baru sampai disini kemarin, bibik langsung ninggalin kamu." katanya sambil memasang muka menyesal.
Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum lagi.
Bibikku terdiam sejenak, lalu mencium pipiku dengan cepat. "bibik pergi ya, kalo kamu perlu sesuatu...." Dia diam sejenak, lalu menggeleng sambil terus memandangku seakan mengharapkan sesuatu.
"Bibik pergi ya Li. Jangan lupa makan, bibik tau kamu belum makan." katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk perlahan. Dia pergi, bibikku pergi. Suara motor terdengar di luar kemudian suara klakson.. tiiin tiiin.. kemudian suaranya mulai merayap pergi.
Aku membenamkan wajahku di bantal, baunya sedikit apek. Aku bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah seragam baruku. Baju putih dengan rok abu-abu berada di 1 plastik. Ada di paling atas, dibawanya ada beberapa pasang stel baju seragam lagi. Dengan malas ku lempar seragamku ke kasur dan keluar kamar. Kupandangi pintu depan yang masih terbuka, kemudian duduk sebentar di kursi tamu, kemudian tiduran dengan kaki dibawah, kemudian kunaikkan kakiku, kemudian kutelungkupkan badanku.. "Aaaaargggghhhh.." teriakku sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangan memukul-mukul sofa yang tak nyaman itu.
Aku bangkit kemudian berjalan ke meja makan, ku angkat tudung saji. Dan sebuah amplop putih berada disebelah mangkok lauk. Kuambil dan kubuka perlahan. "Uang? bibik?" aku mengambil uang itu dan menyimpannya dalam kantong kemudian menemukan sepucuk surat di dalam amplop itu.
Buat kebutuhan kamu
selama bibik pergi.
Bibik takut,
kamu nggak mau terima
jadi bibik taruh disini.
Bibik sadar, kita tidak
terlalu akrab dan dekat
Tapi bibik yakin kita akan akrab
dan jadi keluarga yang bahagia
Bibik sayang kamu
FELISIA VIOLIA ODORATA
Aku menarik nafas dengan berat. "viona bik..." kutarik dan hembuskan nafasku dengan berat.
"Gimana jadi keluarga bahagia, baru dateng udah ditinggal sebulan." Aku duduk dikursi dan menopang wajahku dengan sebelah tangan.
Tiba-tiba aku ingin membuka lemari besar di dekat tv.
aku membuka satu persatu laci, tidak ada yang istimewa. hanya berkas-berkas milik bibik dengan tulisan-tulisan yang ditulis tangan. Tapi ada sebuah kertas berwarna merah yang terlihat,
kuambil kertas itu, "foto siapa?" sebuah foto lama.
Aku melihat foto itu, lama-lama aku mengenal beberapa wajah orang-orang dalam foto itu.
"bapak, ibu, bibik.. ya ini bibik." ada beberapa orang yang takku kenal di sebelah mereka,
"aku? ini aku.." ada anak kecil dengan senyum mengembang, dia kurus dan tinggi. disebelahnnya ada foto seorang anak laki-laki. gendut dan menggemaskan sama cerianya dengan anak disampingnya, mereka berpegangan tangan dan memakai baju, celana, sepatu dan topi dengan warna yang sama. warna biru muda.
"kakak,.."pekikku tak percaya. Aku mendekatkan wajahku ke foto itu..
"kakak.. " panggilku seakan dia akan menjawabku. Aku tersenyum perlahan.
Ada tulisan di belakang foto itu.
Ini adalah hari yang istimewa.
hari ulang tahunku.
Semua saudaraku disini...
Ayah ibu berikan aku
ucapan selamat ulang tahun
dari surga.
Aku melihat foto kakakku lagi, lalu mengingat hari terakhir aku melihat kakakku. Air mataku meluncur perlahan.
Tiba-tiba kepalaku terasa berat mataku menjadi berkunang-kunang. Aku merasa badanku semakin melemah dan aku merasakan dinginnya ubin rumah bibik yang mengenai pipi dan lenganku.
"Kakak dimana?" pekikku perlahan sebelum mataku terpejam
bersambung